Pada tanggal 16, September 2010 itulah awal mulaku dan kelompok pendakianku memulai keberangkatan menuju Gunung Kawi. Diawali dari sekolah, kami berangkat kira-kira pukul 07.30 dengan naik pick up. Di tengah-tengah perjalanan, tidak lupa sesekali kami mengambil foto. Hingga sampi di pasar Semen, kami berhenti sejenak. Dan beberapa orang dari kami turun untuk membeli beberapa batrey dan sayuran, dan saya beserta teman-teman yang lain menunggu di atas pick up sambil memandangi sekitar, tak lupa juga tetap mengambil foto. Setelah batrey dan sayuran kami dapatkan,kami pun melanjutkan perjalanan singkat hingga sampai di pertigaan dekat pemakaman desa Semen. Kami turun dari pick up dan menurunkan beberapa carrier yang lumayan besar karena memang berisi alat-alat dan kebutuhan yang kami perlukan.
(berangkat dari sma dengan naik pick up. berasa bahaagia banget dah mentang-mentang belum capek-,-)
Setelah bersiap-siap, kami pun memulai perjalanan dengan berjalan kaki sampai desa Sirah Kencong. Memang sulit berjalan jarak jauh dengan membawa carrier yang besar, apalagi bagi kami anak-anak kelas sepuluh yang memang pertama kali melakukan pendakian. Sehingga beberapa kali kami menyempatkan diri untuk duduk sejenak sambil meneguk air yang telah kami bawa serta berharap ada truk yang lewat dan menuju Desa Sirah Kencong, sehingga kami bisa menumpang sampai ke Desa Sirah Kencong. Setelah berjalan cukup jauh, kami kembali beristirahat sejenak. Betapa beruntungnya kami kali ini, karena ada sebuah truk yang lewat, sehingga kami segera meminta izin kepada pemiliknya dan langsung naik ke atas bak truk.
(pertama kali bawa carrier . semangat !!!)
(saat menumpang di truk )
Di sepanjang perjalanan, kami bisa melihat pemandangan yang berupa pepohonan yang tumbuh tinggi dan rimbun meskipun di atas bak truk serasa di atas kapal laut yang digoncang air laut. Karena memang jalan yang dilewati truk memang lumayan sulit. Di tengah-tengah perjalanan, ada beberapa orang pendaki lain yang ikut menumpang di truk yang kami tumpangi. Dan ternyata mereka juga berasal dari Blitar. Setelah beberapa lama kemudian, truk yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah , dan truk itu tidak menuju ke Sirah Kencong, melainkan hanya berhenti sampai rumah tersebut. Sehingga kami semua harus turun dan melanjutkan perjalanan kami ke Sirah Kencong dengan berjalan kaki. Dan beruntungnya perjalanan kami dari rumah tersebut hingga ke Desa Sirah Kencong tidak terlalu lama dan melelahkan. Apalagi ketika hampir memasuki pintu gerbang Sirah Kencong, hawa dingin khasnya sudah mulai terasa dan membuatku tidak merasakan keringat-keringat yang mengucur, akan tetapi hanyalah hawa dingin yang mulai menusuk.
Akhirnya kami sampai juga di Sirah Kencong, senang rasanya sudah sampai ditujuan pertama meskipun memang belum sampai di puncak setidaknya ada titik langkah yang dapat memberikan semangat.
(selamat datang :D Sirah Kencong 1000 M DPL)
Setelah melapor kepada penjaga yang berada di pintu masuk, kami mencari warung terdekat untuk melepas lelah dan makan siang. Akhirnya kami mendapatkannya. Segeralah saya memesan satu piring nasi dan segelas air begitu pula teman-teman yang lain. Lega rasanya dapat menikmati makanan ketika perut ini terasa sangat lapar. Setelah selesai makan, saya dan beberapa teman yang lain menuju ke mushola yang jaraknya tidak begitu jauh dari warung tempat makan siang. Sesampainya di mushola, segera saya duduk dan melepas lelah serta menunggu pinjaman alas kaki untuk berwudlu. Akhirnya saya meminjam alas kaki milik teman saya untuk berwudlu dan segera menuju ke suatu tempat dimana ada air yang mengalir di dekat mushola. Itu bukanlah kran air yang mengalir di kamar mandi mushola, melainkan air yang mengalir entah tidak tau darimana asalnya tapi yang jelas air tersebut memanglah air yang sengaja dialirkan ke selang-selang yang menurut perkiraan saya mengalir ke rumah-rumah penduduk sekitar. Setelah sampai disana, langsung saya mengambil air wudlu, dan rasanya sangatlah dingin seperti air es yang memang sangatlah berbeda dengan air yang biasa saya gunakan sehari-hari di rumah. Namun rasa dingin tidak membuat saya enggan untuk berwudlu, dan sehingga setelah berwudlu saya mengguyur kepala untuk membuat kepala ini terasa dingin. Selesai sudah saya berwudlu kemudian segeralah saya menuju ke mushola untuk sholat dluhur berjamaah. Sholat pun selesai, kami kembali ke warung untuk mengambil barang-barang dan membawa ke tempat dimana kami memulai pendakian menuju ke brak empat.
Setelah semua barang-barang terkumpul, kami berdoa bersama-sama dan kami pun berangkat. Kami tidak melalui jalan yang mudah, melainkan kami melewati pohon-pohon teh yang begitu banyak. Karena memang ini merupakan kawasan perkebunan teh. Dan untuk melalui itu tidaklah mudah tetapi butuh usaha dan semangat. sampai-sampai di antara kami ada yang sempat beberapa kali terserang kram pada kaki. Hingga lumayan menyita waktu. Tapi tidak mengapa karena memang inilah pertama kali pengalaman bagi kami yang masih kelas sepuluh untuk melakukan pendakian. dan ditengah-tengah perjalanan begitu banyak halangan yang kami temui. Mulai dari ranting-ranting serta dahan-dahan yang menutupi jalan.

hingga akhirnya kami sampai juga di brak empat. Dan saya pun beserta beberapa orang teman lainnya turun ke sebuah sumber air yang dekat untuk mengisi curigen-curigen yang mungkin sudah kosong. setelah itu kami bergegas untuk segera menuju pos satu. Namun karena waktu sudah mulai petang, kami berhenti sejenak di wukir untuk menyiapkan perjalanan dimalam hari. Tiba-tiba seseorang yang kami temui di truk untuk menumpang datang dengan membawakan minuman hangat untuk kami. Kami sangat berterima kasih kepadanya. Dia pun kembali ke tempat dia mendirikan tendanya yaitu F4(mereka menyebutnya).
Usai bersiap-siap, kami pun berdoa dan memulai perjalanan malam menuju ke pos satu. Dan ketika kami sampai di F4, kami pun kembali disambut dengan makanan yang telah disiapkan oleh pendaki lain yang tadi telah memberi minuman kepada kami. Perut telah terisi kami pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke pos satu. Kami melalui jalan menuju ke pos satu dengan menggunakan lampu senter yang lumayan untuk digunakan sebagai penerangan. Namun di tengah perjalanan, beberapa orang dari kami merasa kram, itu disebabkan karena barang yang terlalu berat dan kondisi fisik yang lelah. Jadi kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke pos satu, melainkan mendirikan tenda dan bermalam di suatu tempat(saya tidak tahu namanya, yang jelas lumayan luas).
Sebagian mendirikan tenda dan beres-beres, saya dan teman-teman lainnya menyiapkan untuk makan malam. Semuanya sudah siap, dan tidak lupa, api unggun pun sudah siap. Kami langsung makan malam. Sehabis makan malam di lanjutkan dengan acara evaluasi tentang hari pertama. Evaluasi pun selesai dan kamipun tidur. Namun sebagian ada yang belum tidur. Akhirnya saya pun terlelap. Hingga ketika pagi mulai tiba, saya dan teman-teman bangun dan menyiapkan makanan untuk sarapan serta persiapan menuju ke puncak. Sayangnya, diantara kami tidak semua dapat ikut menuju ke puncak, jadi mereka menjadi penjaga basecamp dan berencana menunggu kami(yang ikut mendaki ke puncak) di brak empat.
Persiapan sudah lengkap, hanya sebuah tas yang berisi makanan ringan serta minuman sekedarnya. Dan kami segera berangkat. Hingga akhirnya sampai juga di Pos satu. dan kami beristirahat sejenak dan tidak lupa berfoto-foto pula. Selanjutnya menuju ke pos dua. Jalan yang kami lalui dari awal menuju ke pos satu dan pos dua ini memang lumayan memiliki tanjakan tinggi, sehingga lumayan menguras tenaga. Dan akhirnya sampai juga di pos dua. Kami melakukan hal yang sama pula seperti di pos satu. Selanjutnya kami bergegas menuju ke pos selanjutnya yaitu pos tiga. Perjalanan ini memang lumayan melelahkan, namun rasanya saya tidak merasakan lelah itu hanya saja agak susah untuk bernafas dan rasa haus yang sangat besar. Dan beberapa kali kami beristirahat, walaupun belum sampai di pos tiga. Rasanya sangat lama sekali perjalalan menuju ke pos tiga ini daripada sebelumnya. kami pun sampai ke sebuah tempat yang lumayan luas. Namun betapa terkejutnya, ketika salah seorang dari kami berkata bahwa tempat itu adalah pos 5. oh ternyata saya melewatkan pos tiga dan empat, namun senang sekali rasanya tinggal satu titik lagi bisa menuju puncak. Dan akhirnya kami pun sampai juga di puncak . Senang sekali rasanya bisa sampai di puncak, karena memang ini pertama kalinya saya mendaki gunung. Kemudian kami melakukan ceremonial. Yaitu dengan menghadap ke benderasmasapala serta mengucapkan kode etik Pecinta Alam. Selanjutnya menyanyikan mars smasapala dan terakhir dengan lagu syukur. Setelah itu, kami membuka bekal makanan serta minuman yang telah kami bawa. Dan dua orang dari kami turun ke sumber air yang terdekat untuk mengambil air. Dan tidak lupa sebagian berfoto-foto. Dan bekal-bekal yang kami bawa pun telah habis hanya sisa sekotak coklat untuk perjalanan pulang, serta minuman. Kira-kira sudah pukul dua siang, dua orang yang tadi turun untuk mengambil air, belum juga kembali kepuncak. Dan sesaat kemudian mereka pun kembali. Dan kami segara turun karena hari sudah mulai sore. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.15. dan hujan sepertyinnya sudah ingin turun. Gerimis mulai terasa. Dan akhirnya kami sampai di pos lima. Selanjutnya kami langsung turun. Tidak berapa lama kemudian, hujan pun semakin deras sehingga membuat jalan yang kami lalui menjadi sangat licin. Dan hal ini membuat saya berkeinginan untuk memanfaatkan lintasan ini sebagai sarana bermain. Yaitu membuat sebagai seluncur. Hujan tidak kunjung reda, badan rasanya sudah menggigil, namun harus tetap semangat untuk turun. Dan lama kemudian kami berhenti sejenak untuk menyantap coklat yang telah tersisa serta minum untuk menambah energi. Dan setelah itu, perjalanan pun kami lanjutkan. Mau tidak mau kami harus melewati jalan yang licin dan sempit, karena memang hanya ini yang bisa kami lewati. Waktu terus berjalan dan nampaknya matahari sudah mulai bersembunyi, jadi kami harus mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan malam. Dan perjalanan ini begitu menyulitkan. Karena lampu senter yang terbatas, kami harus saling memberitahu teman yang ada di belakangnya untuk memberitahukan keadaan jalan yang telah kita lewati. Saya berusaha menghilangkan rasa dingin, lelah, serta lapar, karena memang ini adanya yang harus dilalui. Malam semakin datang dan kami belum sampai di basecamp. Dan setelah lama kemudian. Sampai juga kami di tempat kami bermalam, namun alangkah kagetnya, kami telah di jemput oleh segerombolan pendaki lain dan juga kelompok kami. Dan dengan segera mereka menyuruh kami mengganti pakaian yang basah dengan jaket-jeket yang telah mereka bawa. Setelah mengganti baju, kami makan beberapa snak dan minuman yang telah disiapkan. Akhirnya badan ini sudah mulai terasa hangat. Dan kami pun menuju ke basecamp yang berada di brak empat. Lega rasanya bisa sampai disana. Dan setelah itu saya langsu mengganti pakaian yang telah basah. Setelah itu makan malam yang telah disiapkan oleh dua orang teman yang menunggu di basecamp. Karena ada api unggun, saya mendekat untuk menghangatkan badan. Ketika malam mulai larut, saya disuruh untuk memasak. Dan ternyata tidak berapa lama kemudian, segerombolan pendaki yang ternyata memang datang untuk menjemput kami yang tadi menuju puncak, karena ada suatu miss komunikasi bahwa dikabarkan bahwa yang ke puncak itu hilang. Dan mereka pun berkumpul juga dengan kami. Teman-teman kelompok kami sudah banyak yang tidur karena memang sangat lelah. Dan ketika makananan sudah siap, kami yang masih terbangun makan brsama. Rasa ngantukku sudah menghilang karena sedang menikmati indahnya malam dari atas. Dan ketika matahari sudah terbit, rasa kantukku pun muncul kembali sehingga saya menyempatkan sejenak untuk tidur. Dan ketika matahari mulai naik semakin menunjukkan pagi yang cerah, kami semua melakukan aktifitas seperti biasa layaknyya orang yang sedang tinggal di situ. Seperti mencari air, masak, mencari kayu, dll. Serta ketika siang pun tetap melakukan seperti dirumah, karena memang hari ini memanglah sedang Free. Dan ketika sore tiba, banyak pendaki-pendaki lain yang sedang mendaki. Jadi kami sebagai ibaratnya tuan rumah, kami menediakan beberapa makanan untuk mereka. Dan malam harinya, para pendaki-pendaki berkumpul di api unggun dan bernyanyi bersama. Mata mulai terasa berat, dan saya pun dan sebagian teman memutuskan untuk tidur. Pagi harinya kami melakukan kegiatan seperti biasa dan packing untuk pulang. Kami pun berdoa dan tidak lupa berfoto-foto.
Dan akhirnya kami pun pulang. Kami melewati jalan yang biasa sehingga ini bisa memudahkan kami sampai di Sirah Kencong dengan cepat. Akhirnya sampai juga kami di Serah Kencong. Dan selanjutnya kami makan siang. Dan menunggu truk yang akan membawa kami kembali ke Semen. Sambil menunggu, kami tidak lupa berfoto-foto dan bermain sejenak. Akhirnya truk pun mulai berangkat. Segeralah kami naik ke atas bak truk dan menuju ke Semen. Sesampai di semen kami langsung naik angkutan menuju ke Talun. Hingga sampai talun, kami naik angkutan lagi hingga sampai di pertigaan dekat sekolah. Kami pun segera menuju ke sekretariat PA dan berkumpul untuk makan, minum. Dan tiba-tiba hujan pun turun, kami harus masuk kedalam sekretariat. Setelah melanjutkan makan-makan, kami melakukan evaluasi tentang pendakian. Hingga malam tiba evaluasai pun selesai.